18
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Kajian Tentang Bahasa Indonesia
a. Hakikat Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia
untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Melalui bahasa pula,
kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dikembangkan
serta dapat diturunkan kepada generasi-generasi mendatang.
Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang untuk
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan
sosialnya. Ia memungkinkan tiap orang untuk mempelajari kebiasaan,
adat istiadat, kebudayaan serta latar belakangnya masing-masing.
Bahasa Indonesia sendiri sudah ada sejak sebelum kemerdekaan
yang saat itu masih disebut sebagai bahasa melayu dan masih
menggunakan dialek melayu. Hingga pada tanggal 28 Oktober 1928
dalam konggres pemuda yang dihadiri oleh aktivis dari berbagai
daerah di Indonesia, bahasa melayu diubah namanya menjadi bahasa
Indonesia yang diikrarkan dalam sumpah pemuda sebagai bahasa
persatuan dan bahasa nasional. Pengakuan bahasa Indonesia sebagai
18
19
bahasa persatuan merupakan peristiwa pentng dalam perjuangan
bahasa Indonesia.
1
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer,
digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama,
berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.
2
Sebagai sebuah sistem,
maka bahasa itu terbentuk oleh suatu aturan, kaidah, atau pola-pola
tertentu, baik pada bidang tata bunyi, bentuk kata, maupun bentuk
kalimat. Apabila kaidah atau aturan-aturan tersebut terganggu, maka
komunikasipun dapat terganggu pula. Melalui bahasa seseorang
menyampaikan pikiran, pengalaman, gagasan, pendapat, perasaan,
keinginan, harapan kepada sesama manusia. Dengan bahasa itu pula
orang dapat mewarisi dan mewariskan, menerima dan menyampaikan
segala pengalaman dan pengetahuan lahir batin.
3
Menurut Gorys Keraf bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vocal (bunyi ujaran)
yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik
badaniah yang nyata, ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi
yang dihasilkan oleh alat ucap manusia harus diberikan makna
tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat dicerap panca
1
Yakub Nasucha, dkk, Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya Ilmiah, (Yogyakarta:
Media Perkasa, 2010), hal. 6
2
Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006),
hal. 1
3
Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-Mengarang, (Yogyakarta: UP
Indonesia, 1984), hal.5
20
indra.
4
Berarti bahasa mencakup 2 bidang, yaitu bunyi vocal yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan
antara rangkaian bunyi vocal dengan barang atau hal yang diwakilinya
itu. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengar
kita, sedangkan arti adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi
yang menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia memberikan beberapa
pengertian “Bahasa” ke dalam tiga batasan, yaitu: (a) Sistem lambang
bunyi berartikulasi (yang dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat
sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat
komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. (b) Perkataan-
perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku, bangsa, daerah,
Negara, dan sebagainya. (c) Percakapan (perkataan) yang baik sopan
santun, tingkah laku yang baik.
5
Menurut Widjono, Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran
yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakatnya. Bahasa
yang baik berkembang berdasarkan sistem yaitu seperangkat aturan
yang dipatuhi oleh pemakainya. Sistem tersebut yaitu: (1) Sistem yang
mermakna dan dapat dipahami oleh masyarakat pemakaainya, (2)
Sistem lambing bersifat konvensional, (3) Lambang-lambang tersebut
arbitrer, (4) Sistem lambing bersifat terbatas, tetapi produktif yang
artinya yaitu sistem yang sederhana dan jumlah aturan yang terbatas,
4
Gorys Keraf, Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa, (Flores: Nusa Indah,
2004), hal. 2
5
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
21
(5) Sistem lambang bersifat unik, khas, dan tidak sama dengan
lambing bahasa yang lain, (6) Sistem lambang dibangun berdasarkan
kaidah yang bersifat universal.
6
Jadi, dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa
bahasa adalah suatu sistem lambang atau simbol-simbol bunyi yang
bersifat konvensional dan arbiter serta digunakan untuk berkomunikasi
oleh masyarakat tertentu. Dan bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vocal (bunyi ujaran)
yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik
badaniah yang nyata serta digunakan untuk berkomunikasi oleh
masyarakat Indonesia.
b. Fungsi Bahasa Indonesia
Bila ditinjau kembali sejarah bahasa sejak awal hingga sekarang,
maka fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar dan motif
pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa
itu dalam garis besarnya fungsi bahasa dapat berupa:
7
(a) Alat untuk menyampaikan ekspresi diri, sebagai alat untuk
menyampaikan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka
segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-
kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita.
6
Widjono Hs, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangkan Kepribadian di
Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. Grasindo, 2005) hal.10-11
7
Gorys Keraf, Komposisi…, hal. 4-9
22
(b) Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan
maksud kita, melahirkan perasaan dan memungkinkan kita
menciptakan kerja sama dengan orang lain. Komunikasi
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan,
merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. Komunikasi
juga memungkinkan manusia menganalisa masa lampaunya
untuk menarik hasil-hasil yang berguna bagi masa yang akan
datang.
(c) Alat mengadakan integrasi dan adaptasi social, melalui bahasa
anggota masyarakat perlahan-lahan mengenal adat-istiadat,
tingkah laku, dan tata karma masyarakatnya.
(d) Alat mengadakan control social, bahasa mempunyai relasi
dengan proses-proses sosialisasi masyarakat.
(e) Tujuan kemahiran berbahasa, bahsa digunakan sebagai alat
komunikasi baik secara lisan maupun tertulis, agar mereka yang
mendengar atau di ajak bicara, dengan mudah dapat memahami
apa yang dimaksudkan.
Sedangkan menurut Abdul Chaer, pada tulisanya mengatakan
bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk bekerja sama
atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Untuk
berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan dengan cara lain,
23
misalnya dengan isyarat, lambang-lambang gambar atau kode-kode
tertentu lainya.
8
Sedangkan menurut halliday dalam Solchan, secara khusus
mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa sebagai berikut:
9
a) Fungsi personal, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan
pendapat, pikiran, sikap, atau perasaan pemakainya
b) Fungsi regulator, yaitu penggunaan bahasa untuk mempengaruhi
sikap atau pikiran/pendapat orang lain, seperti bujukan, rayuan
permohonan atau perintah.
c) Fungsi interaksional, yaitu penggunaan bahasa untuk menjalin
kontak dan menjaga hubungan social seperti sapaan, basa-basi,
simpati atau penghiburan.
d) Fungsi informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyampaikan
informasi, ilmu pengetahuan, atau budaya.
e) Fungsi heuristik, yaitu penggunaan bahasa untuk belajar atau
memperoleh informasi, seperti pertanyaan atau permintaan
penjelasan atas sesuatu hal.
f) Fungsi imajinatif, yaitu penggunaan bahasa untuk memenuhi dan
menyalurkan rasa estetis (indah), seperti nyanyian dan karya sastra.
g) Fungsi instrumental, yaitu penggunaan bahasa untuk
mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pemakaianya.
8
Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, hal. 4
9
Solchan T. W, dkk, Pendidikan Bahasa Indonesia di SD, (banten: Universitas Terbuka,
2010), hal.7
24
Jadi dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi
umum bahasa adalah sebagai alat komunikasi, sedangkan fungsi khusus
bahasa ada beberapa fungsi antara lain yaitu: (1) bahasa sebagai kontrol
social, (2) bahasa sebagai alat adaptasi social, (3) bahasa sebagai sarana
mengekspresikan diri, (4) bahasa sebagai sarana pendidikan.
Sedangkan bahasa Indonesia sendiri memiliki fungsi sebagai
berikut:
10
a) Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
sebagai bahasa nasional bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang
kebanggaan kebangsaan, lambang identitas nasional, alat pemersatu
berbagai suku bangsa, dan alat perhubungan antar daerah dan antar
budaya.
b) Bahasa Indonesia sebagai lambang kebangaan nasional
tidak semua bangsa di dunia mempunyai sebuah bahasa nasional yang
dipakai secara luas dan dijunjung tinggi. Adanya sebuah bahasa yang
dapat menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda merupakan
suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa
bagsa Indonesia sanggup mengatasi perbedaan yang ada.
c) Bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan nasional
Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya dan
bahasanya berbeda. Untuk membangun kepercayaan diri yang kuat,
sebuah bagsa memerlukan identitas, identitas sebuah bangsa bisa
10
Yakub Nasucha, dkk, Bahasa Indonesia…, hal. 8-10
25
diwujudkan di antaranya melalui bahasanya. Dengan adanya sebuah
bahasa yang mengatasi berbagai bahasa yang berbeda, suku-suku
bangsa yang berbeda dapat mengidentikkan diri sebagai suatu bangsa
melalui bahasa tersebut.
d) Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa
sebuah bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa yang budaya
dan bahasanya berbeda akan mengalami masalah besar dalam
melangsungkan kehidupanya. Bahasa Indonesia berfungsi untuk
menyatukan suku-suku bangsa yang berbeda, yang akan menyatukan
suku-suku bagsa yang berbeda.
c. Kegiatan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Belajar merupakan suatu komponen pendidikan yang
berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi. Teori-teori yang
dikembangkan dalam komponen ini meliputi teori tentang tujuan
pendidikan, organisasi kurikuum, isi kurikulum dan modul-modul
pengembangan kurikulum.
11
Belajar selalu dikaitkan dengan kegiatan
perubahan pemahaman melalui suatu komponen yang terdapat dari
apa yang dipelajari dan selalu bergerak pada hal yang dituju untuk
menjadi sebuah ilmu.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan
11
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna PembelajaraN: untuk Membutuhkan Memecahkan
Problemetika Belajar dan Mengajar, cet.5, (Bandung: Alfabeta, 2005), hal.11
26
kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis
Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar
bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca,
berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Seseorang mempelajari suatu bertujuan untuk memiliki
penguasaan kemampuan berbahasa atau kemampuan berkomunikasi
melalui bahasa yang digunakanya. Kemampuan ini melibatkan 2 hal,
yaitu (1) kemampuan untuk menyampaikan pesan, baik secara lisan
(melalui berbicara) maupun tertulis (melalui tulisan), serta (2)
kemampuan memahami, menafsirkan, dan menerima pesan, baik yang
disampaikan lisan (melalui kegiatan menyimak) maupun tertulis
(melalui kegiatan membaca).
12
Tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia adalah
meningkatkan keterampilan peserta didik dalam Bahasa Indonesia.
Pengetahuan bahasa diajarkan untuk menunjukkan peserta didik
terampil berbahasa, yakni terampil menyimak, berbicara, membaca,
dan menulis. Keterampilan berbahasa hanya bisa dikuasai dengan
latihan yang terus menerus dan sistematis, yakni harus sering belajar,
berlatih, dan membiasakan diri.
13
Mata pelajaran Bahasa Indonesia
adalah program untuk mengembangkan keterampilan berbahasa dan
sikap positif terhadap Bahasa yang mencakup keterampilan
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
12
Solchan T.W., dkk, Pendidikan Bahasa Indonesia di SD, (Banten: Universitas Terbuka,
2014), hal. 1.31
13
Asul Wiyanto, Terampil Menulis Paragraf, (Jakarta: Grasindo, 2009), hal. 7
27
Guru bahasa harus memahami benar-benar bahwa tujuan
akhir pengajaran bahasa ialah agar para peserta didik terampil
berbahasa, dengan kata lain, agar para peserta didik mempunyai
kompetensi bahasa yang baik. Apabila seseorang mempunyai
kompetensi bahasa yang baik, maka diharapkan dapat berkomunikasi
dengan orang lain dengan baik dan lancar, baik secara lisan maupun
tulisan.
Oleh karena itu mengajar Bahasa Indonesia sebaiknya
diajarkan secara terpadu, baik antar aspek dalam bahasa itu sendiri
(kebahasaan, kesastraan, dan keterampilan berbahasa) atau bahasa
dengan mata pelajaran lainya. Di tingkat dasar pembelajaran bahasa
Indonesia lebih difokuskan kepada penguasaan kemampuan
berbahasa peserta didik kemampuan tersebut yaitu:
(a) Kemampuan menyimak atau mendengarkan
Kemampuan ini meliputi kemampuan memahami dan
menafsirkan pesan yang disampaikan secara lisan oleh orang
lain. Peningkatan keterampilan menyimak dalam pebelajaran
dapat diberikan/diajarkan melalui mendengarkan percakapan,
berita, ceramah, cerita, penjelasan dan sebagainya.
(b) Kemampuan Berbicara
Kemampuan untuk menyampaikan pesan secara lisan
kepada orang lain. Pesan di sini adalah pikiran, perasaan,
sikap, tanggapan, penilaian, dan sebagainya. Kemampuan
28
berbicara merupakan keterampilan yang kurang penting.
Mereka beranggapan bahwa berbicara mudah dan dapat
dipelajari dimana saja. Anggapan seperti ini merupakan
anggapn yang kelliru. Sekedar berbicara dengan teman atau
anggota keluarga mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi, berbicara
secara sistematis dengan sikap yang sesuai dan penggunaan
bahasa Indonesia yang tepat dalam berbagai situasi tentu tidak
mudah. Berbicara juga bermacam-macam berinteraksi dengan
sesama, berdiskusi dan berdebat, berpidato, menjelaskan,
bertanya, menceritakan, melaporkan, dan menghibur. Oleh
karena itu keterampilan berbicara harus dilatih oleh guru agar
peserta didik dapat berbicara sesuai dengan kaidah bahasa
yang baik dan benar
(c) Kemampuan Membaca
Kemampuan untuk memahami dan menafsirkan pesan yang
disampaikan secara tertulis oleh pihak lain. Kemampuan ini
tidak hanya berkaitan dengan pemahaman simbol-simbol
tertulis, tetapi juga memahami pesan atau makna yang
disampaikan oleh penulis.
(d) Kemampuan Menulis
Kemampuan menyampaikan pesan kepada pihak lain secara
tertulis. Kemampuan ini bukan hanya berkaitan dengan
kemahiran peserta didik menyusun dan menuliskan simbol-
29
simbol tertulis, tetapi juga mengungkapkan pikiran, pendapat,
sikap, dan perasaan secara jelas dan sistematis sehingga dapat
dipahami oleh orang yang menerimanya, seperti yang dia
maksudkan.
2. Kajian Tentang Menulis
a. Hakikat Menulis
Keterampilan menulis bukanlah kemampuan yang
diperoleh secara otomatis, kemampuan itu tidak dibawa sejak lahir,
melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran.
Ketrampilan menulis (writing skil) adalah kemampuan
dalam mendeskripsikan atau mengungkapkan isi pikiran mulai dari
aspek yang sederhana seperti menulis kata-kata sampai kepada
aspek yang kompleks yaitu mengarang.
14
Menulis adalah keterampilan produktif dengan
menggunakan tulisan. Menulis dapat dikatakan suatu keterampilan
berbahasa yang paling rumit diantara jenis-jenis keterampilan
berbahasa lainya. Ini karena menulis bukanlah sekedar menyalin
kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan
dan menuangkan pikiran dalam suatu struktur tulisan yang
teratur.
15
14
Acep Hermawan, Metode Pendidikan Bahasa Arab, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011), hal.151
15
Yeti Mulyati, dkk, Keterampilan Berbahasa Indonesia SD, (Jakarta: Universitas
Terbuka, 2009), hal. 1.31
30
Sedangkan menurut jauharoti Alvin, dkk. Menyebutkan
menulis merupakan suatu proses yang dilakukan serta
dipergunakan oleh penulis untuk menyampaikan gagasan, pesan
informasi melalui media kata-kata bahasa/bahasa tulis kepada
orang lain. Sebagai bentuk komunikasi verbal, menulis melibatkan
penulis sebagai penyampai pesan, mediaum tulisan, dan pembaca
sebagai penerima pesan.
16
Tujuan pengajaran menulis adalah agar peserta didik dapat
berkomunikasi dalam bahsa tulis sesuai dengan konteks pemakaian
bahasa yang wajar.
17
Jadi menulis berarti menyampaikan pikiran, perasaan, atau
pertimbangan melalui tulisan. Alatnya adalah bahasa yang terdiri
atas kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Pikiran
yang disampaikan kepada orang lain harus dinyatakan dengan kata
yang mendukung makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang
ingin dinyatakan. Kata-kata itu harus disusun secara teratur dalam
klausa dan kalimat agar orang dapat menangkap apa yang ingin
disampaikan itu. Makin teratur bahasa yang digunakan, makin
mudah orang menangkap pikiran yang disalurkan melalui bahasa
itu. Oleh karena itu keterampilan menulis di sekolah sangatlah
penting. Untuk menukur kualitas tulisan peserta didik maka perlu
ditentukan skor kriteria penilaian sebagaimana berikut:
16
Jauharoti Alvin, dkk, Bahasa Indonesia 1, (Surabaya: Lapis PGMI, 2008), hal.10
17
Yeti Mulyati, dkk, Keterampilan Berbahasa…, hal. 9.5
31
Tabel 2.1 Skor Kemampuan Menulis Cerita
18
Aspek yang
Dinilai
Skor
Kriteria
Isi
27-30
22-26
17-21
13-16
Sangat baik sempurna : padat informal,
substansial, pengembangan tesis tuntas,
relevan dengan permasalahan dan tuntas.
Cukup-Baik : informasi cukup, subtansi
cukup, pengembangan tesis terbatas, relevan
dengan masalah tetapi tdak lengkap.
Sedang-Cukup : informasi terbatas, subtansi
cukup, pengembangan tesis tidak cukup,
permasalahan tidak cukup.
Sangat kurang : tidak berisi, tidak ada
subtansi, tidak ada pengembangan tesis,
tidak ada permasalahan
Organisasi
18-20
14-17
10-13
7-9
Sangat Baik-Sempurna : ekspresi lancar,
gagasan diungkapkan dengan jelas, padat,
tertata dengan baik, urutan logis, kohesif.
Cukup-Baik : Kurang lancar, kurang
terorganisir tetapi ide utama terlihat, bahan
pendukung terbatas, urutan logis tetapi tidak
lengkap.
Sedang-Cukup : tidak lancar, gagasan kacau,
terpotong-potong, urutan dan pengembangan
tidak logis
Sangat-Kurang : tidak komunikatif, tidak
terorganisir, tidak layak nilai
Kosa Kata
18-20
14-17
Sangat Baik-Sempurna : pemanfaatan
potensi kata canggih, pilihan kata dan
ungkapan tepat, menguasai pembentukan
kata
Cukup-Baik : pemanfaatan potensi kata
agak canggih, pilihan kata dan ungkapan
kadang-kadang kurang tepat tetapi tidak
18
J.B Heaton, Writing English Language Tests, (Amerika: Longman, 1998), hal. 146
32
10-13
7-9
mengganggu
Sedang-Cukup : pemanfaatan potensi kata
terbatas, sering terjadi kesalahan
penggunaan kosa kata dan dapat merusak
makna
Sangat-Kurang : pemanfaatan potensi kata
asl-asalan, penentuan tentang kosa kata
rendah, tidak layak nilai.
: Bahasa
22-25
18-21
11-17
5-10
Sangat Baik-Sempurna : kontruksi kompleks
tetapi efektif, hanya terjadi sedikit kesalahan
penggunaan bentuk kebahasaan
Cukup-Baik : konstruksi sederhana tetapi
efektif kesalahan kecil pada konstruksi
komplek, terjadi sejumlah kesalahan tetapi
makna tidak kabur.
Sedang-Cukup : terjadi kesalahan serius
dalam konstruksi kalimat, makna
membingungkan dan kabur
Sangat-Kurang : Tidak menguasai aturan
sintaksis, terdapat banyak kesalahan, tidak
komunikatif, tidak layak nilai
Mekanik
5
4
3
2
Sangat Baik-Sempurna : menguasai aturan
penulisan, hanya terdapat beberapa
kesalahan ejaan.
Cukup-Baik : kadang-kadang terjadi
kesalahan ejaan tetapi tidak mengaburkan
warna
Sedang-Cukup : sering terjadi kesalahan
ejaan, makna membingungkan atau kabur
Sangat-Kurang : tidak menguasai aturan
penulisan, erdapat banyak kesalahan ejaan,
tulisan tidak terbaca, tidak layak huni.
33
b. Tahap-Tahap Menulis
Kegiatan menulis merupakan satu kegiatan tunggal jika
yang ditulis adalah sebuah karangan yang sederhana, pendek dan
bahanya sudah siap dikepala. Akan tetapi, kegiatan menulis itu
adalah suatu proses yaitu proses penulisan. Menurut William
Miller ada beberapa tahap menulis, diantaranya:
19
a) Tahap Persiapan, pada tahap ini peserta didik memilih topic,
mengumpulkan ide-ide, memilh bentuk yang sesuai, sehingga
peserta didik telah mengetahui apa yang akan ditulis dan
bagaimana menuliskanya.
b) Tahap Inkubasi, pada tahap ini peserta didik mulai memikirkan
masak-masak gagasan yang muncul, disimpan, dan memikirkan
waktu yang tepat untuk menuliskanya. Ketika saat penulisan
gagasan atau itu tiba, maka semuanya akan mengalir begitu
deras dan lancer.
c) Tahap Inspirasi, pada tahap ini peserta didik siap melahirkan
gagasan atau ide dan ada desakan yang kuat untuk segera
menulis sehingga tidak bias ditunda lagi.
d) Tahap Penulisan, pada tahap ini peserta didik telah
mengungkapkan gagasan atau ide dalam bentuk tulisan sesuai
dengan yang direncanakan. Pada tahap ini, tulisan jangan
dikontrol atau dinilai dahulu., tetapi membiarkan semua keluar
19
Puja Laksana, Panduan Praktis Mengarang-Menulis. (Semarang: Aneka Ilmu: Tanpa
Tahun), hal. 26-27
34
tanpa harus dinilai baik buruk hasilnya, yang masih berupa
sketsa-sketsa yang masih kasar.
e) Tahap Revisi, pada tahap ini peserta didik memperbaiki tulisan
yang masih kasar tersebut dengan membuang dan menambah
sesuai apresiasi dan pengetahuan dari komentar-komentar yang
diberikan oleh teman dan gurunya. Peserta didik menulis
kembali tulisanya dalam bentuk yang sesuai dan
membagikanya kepada teman sekelasnya. Pada tahap ini
bentuk tulisan terakir yang dianggap telah mendekati bentuk
idealnya.
c. Teknik Menulis
Keterampilan menulis bukan merupakan kemampuan yang
otomatis dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui proses
pembelajaran. Keterampilan menulis harus diberikan dan diajarkan
kepada peserta didik kelas dasar. Pada tahap dasar peserta didik
diperkenalkan dengan bentuk huruf-huruf, diajarkan menuliskan kata,
kemudian diajarkan untuk membentuk kata menjadi kalimat dan
dirangkai menjadi paragraph yang kemudian paragraf-paragraf
disusun menjadi sebuah wacana.
Bedasarkan hal tersebut peran guru sangat diperlukan dalam
meningkatkan kemampuan menulis cerita peserta didik. Pada tahap
ini guru harus mampu menciptakan situasi belajar yang
35
memungkinkan peserta didik aktif untuk berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa tulis.
Menulis secara umum dapat dibedakan menjadi empat tahap,
yaitu:
20
a) Menyalin (Copying)
Kegiatan menyalin tulisan merupakan kegiatan menulis yang
biasanya dilakukan pada kelas rendah yaitu kelas 1 yang baru
belajar menulis kalimat. Kegiatan ini dapat berupa kegiatan
peserta didik menyalin langsung sebuah kalimat yang sudah
disediakan oleh guru.
b) Menulis Terbimbing (Guided Writing)
Teknik menulis secara terbimbimbing dapat berupa wacana atau
dialog pendek dengan beberapa kata yang sengaja dihilangkan.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara mendektekan sebagian
kalimat, dan peserta didik diminta untuk melengkapi dengan kata-
kata mereka sendiri.
c) Menulis Kalimat (Substitution Writing)
Kegiatan keterampilan menulis dapat berupa kegiatan menulis
kalimat atau wacana kembali, tetapi ada beberapa bagian yang
diganti dengan hal yang serupa berdasarkan situasi nyata.
d) Menulis Bebas (Free Writing)
20
Kasihan K.E Suyanto, English for Young Learners “Melejitkan Potensi Anak Melalui
English Clash yang Fun, Asyik dan Menarik”, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hal. 69-72
36
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang memerlukan penguasaan
kosa kata dan tata bahasa yang cukup. Guru dapat memberikan
suatu model tulisan atau gambaran tentang topik yang mungkin
merupakan objek yang menarik bagi pesrta didik.
d. Manfaat Menulis
Dalam dunia pendidikan, menulis sangat berharga, sebab menulis
membantu seseorang berfikir lebih mudah. Menulis sebagai suatu alat
dalam belajar dengan sendirinya memainkan peranan yang sangat
penting. Dilihat dari sudut pandang ini, manfaat menulis adalah:
21
a. Lebih mengenali kemampuan dan potensi diri dan mengetahui
samapi mana pengetahuan kita tentang suatu topic
b. Dapat mengembangkan berbagai gagasan
c. Lebih banyak menyerap, mencari serta menguasai informasi
sehubungan dengan topic yang ditulis.
d. Mengomunikasikan gagasan secara sistematis dan
mengungkapkanya secara tersurat.
e. Dapat menilai diri kita secara objektif.
f. Dapat memecahkan permasalahan yaitu dengan menganalisisnya
dalam konteks yang konkret.
g. Mendorong belajar lebih aktif, kita menjadi penemu serta
pemecahan masalah
21
Ahmat Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta,
Prenadamedia Group, 2013), hal. 254
37
h. Membiasakan berfikir tertib.
3. Kajian Tentang Metode Pembelajaran
a. Hakikat Metode Pembelajaran
Ditinjau dari segi bahasa metode berasal dari bahasa Inggris yaitu
method, dan dari bahasa Yunani yaitu methodos. Methodos berasal dari
kata meta yang berarti sesudah atau melampaui, dan hodos berarti cara
atau jalan. Secara istilah, metode yaitu suatu cara yang dipergunakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
22
Jadi dapat dipahami
bahwa metode merupakan suatu cara yang dilakukan oleh seseorang
dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Selain itu ditinjau dari segi bahasa dan istilah, secara umum
metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus,
metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas
dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai
teknik dan sumberdaya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran
pada diri pembelajar.
23
Menurut Kokom Komalasari metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
24
22
Annisatul Mufarokah, Strategi Belajar Mengajar, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 47
23
Abdorrakhman Gintings, Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran, (Bandung:
Humaniora, 2008), hal. 42
24
Kokom Komalasari, Pembelajaran kontekstual: Konsep dan Aplikasi, (Bandung:
Refika Aditama, 2011), hal. 56
38
Sedangkan menurut Fathurrahman Pupuh dalam Annisatul
Mufarokah, metode secara harfiah berarti cara. Dalam pemakaian yang
umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang di
pakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitanya dengan
pembelajaran, metode didefinisikan sebagai cara-cara menyajikan
bahan pelajaran pada peserta didik untuk tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.
25
Dengan demikian salah satu keterampilan yang harus
dimiliki oleh seorang guru dalam pembelajaran adalah keterampilan
memilih metode. Pemilihan metode terkait langsung dengan usaha-
usaha guru dalam menampilkan pengajaran yang sesuai dengan situasi
dan kondisi sehingga pencapaian tujuan pengajaran diperoleh secara
optimal.
Dari paparan tersebut dapat dipahami bahwasanya metode
pembelajaran merupakan cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada dalam
rangka mencapai tujuan pembalajaran yang telah ditetapkan. Dengan
metode pembelajaran tersebut diharapakan dapat memberikan suatu
kegiatan pembelajaran yang dapat berlangsung secara efektif dan
efisien serta tujuan pembelajaranpun dapat tercapai secara optimal.
25
Muhammad Ruhman dan Sofan Amri, Strategi Pengembangan Sistem Pembelajaran,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013), hal. 28
39
b. Kedudukan metode dalam belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan instruktur
manusiawi adalah sebagai proses dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran, salah satu usaha yang tiak pernah ditinggalkan guru adalah
bagaiamana memahami kedudukan metode sebagai salah satu
komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar-
mengajar di dalam kelas.
Dari hasil analisi yang di lakukan lahirlah pemahaman tentang
kedudukan metode sebagai strategi pengajaran dan alat untuk
mencapai tujuan sebagai berikut:
26
a) Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar
untuk memberikan dorongan kepada warga belajar untuk mau
belajar.
b) Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam
menumbuhkan rangsangan untuk tumbuhnya minat belajar warga
belajar yang didasarkan pada kebutuhanya.
c) Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber
belajar dalam menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran
d) Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan bagi pebelajar.
26
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), hal. 72
40
e) Tenaga untuk melahirkan kreatiitas, yaitu cara untuk
menumbuhkan kreativitas warga belajar sesuai dengan potensi
yang dimilikinya.
4. Kajian tentang Metode Mind mapping
a. Hakikat Metode Mind Mapping
Mind mapping atau peta pikiran adalah suatu tekhnik
pembuatan catatan-catatan yang dapat digunakan pada situasi, kondisi
tertentu, seperti dalam pembuatan perencanaan, penyelesaian masalah,
membuat ringkasan, membuat struktur, pengumpulan ide-ide, untuk
membuat catatan, kuliah, rapat, debat dan wawancara.
27
Mind Mapping ditemukan dan dikembangkan Tony Buzan
seorang peneliti Inggris yang mengaplikasikan pengetahuan tentang
otak dan proses berfikir dalam berbagai bidang kehidupan. Buzan
menjelaskan mind mapping sebagai cara termudah menempatkan
informasi ke dalam otak dan mengambil informasi keluar dari otak,
cara mencatat kreatif, efektif, secara harafiah memetakan pikiran-
pikiran kita dengan sangat sederhana.
28
Sedangkan menurut tony buzan, Mind mapping adalah cara
termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan
mengambil informasi ke luar dari otak. mind mapping adalah cara
mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakkan
27
Udin S Winaputra, Teori Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta: Universitas Terbuka,
2007), hal. 45
28
ibid
41
pikiran-pikiran kita.
29
Mind mapping adalah metode sempurna untuk
pra-pemaparan peserta didik terhadap suatu topik. Penggunaan warna,
gerakan, gambar, kontras, keputusan organisasi, informasi di sediakan
dalam peta mental kita. Begitu mereka tercipta, para peserta didik
dapat membagikanya dengan temanya, yang selanjutnya akan
mendorong proses pembelajaran aktif.
30
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Mind
Mapping adalah sebuah diagram yang mempresentasikan kata-kata,
ide-ide (pikiran), tugas-tugas atau hal lain untuk memudahkan kita
dalam mengingat banyak informasi. Peta pikiran tersebut, peta
informasi yang panjang dapat dibuat menjadi diagram warna-warni,
sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara
kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal.
b. Langkah-langkah metode Pembelajaran Mind Mapping
Metode mind mapping dimaksudkan agar peserta didik lebih
terampil untuk menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki dan
memperoleh pengetahuan baru sesuai pengalaman belajarnya. Metode
pembelajaran ini sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal
peserta didik atau untuk menemukan alternative jawaban.
29
Tony Buzan, Buku Pintar Mind Map, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005),
hal. 4
30
Eric Jansen, Brand-Based Learning, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008), hal. 133
42
Langkah-langkah metode mind mapping yaitu:
31
1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2) Guru mengemukakan konsep/permasalahan utama atau major
concept yang akan ditanggapi oleh peserta didik, sebaiknya
konsep/permasalahan tersebut mempunyai sub konsep atau
alternative jawaban.
3) Membentuk kemompok diskusi yang anggotanya 2-3 orang.
4) Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat subkonsep atau
alternative jawaban hasil diskusi.
5) Tiap kelompok membaca hasil diskusinya dan guru mencatat
di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6) Dari data-data di papan peserta didik diminta membuat
kesimpulan atau guru memberikan bandingan sesuai konsep
yang disediakan guru.
c. Cara Membuat Mind Mapping
Ada tujuh cara membuat Mind Mapping, yaitu:
32
1) Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi
panjangnya diletakkan mendatar. Memulai dari tengah
member kebebasan pada anak untuk menyebar ke segala arah
31
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Guru/Pendidik
dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas. (Jakarta, Prenada Media Group,
2010), hal. 275
32
Tony Buzan, Buku Pintar…, hal. 5
43
dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan
alami.
2) Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral anda. Sebuah
gambar bermakna seribu kata dan membantu kita
menggunakan imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih
menarik, membuat kita tetap terfokus, membantu kita
berkonsentrasi, dan mengaktifkan otak kiri.
3) Gunakan warna. Bagi otak, warna sama-samamenariknya
dengan gambar. Warna membuat mind mapping lebih hidup,
menambah energy kepada pemikiran kreatif, dan
menyenangkan.
4) Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar dan hubungkan
cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke yingkat satu dan dua,
dan seterusnya. Hal tersebut dilakukan karena otak bekerja
menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua atau tiga atau
empat hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang
kita akan lebih mudah mengerti dan mengingat.
5) Buatlah garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus,
garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang
melengkung dan organis, seperti cabang-cabang pohon, jauh
lebih menarik bagi mata.
44
6) Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Kata kunci tunggal
member lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind
mapping
7) Gunakan gambar. Seperti gambar sentral, setiap gambar
bermakna seribu kata. Jadi bila kita hanya mempunyai 10
gambar di dalam mind mapping kita, mind mapping kita sudah
setara dengan 10.000 kata catatan.
d. Manfaat Menggunakan Mind Mapping
Mind mapping memberikan banyak manfaat bagi anak dan
peserta didik dalam belajar, berfikir maupun merencanakan
kegiatanya sehari-hari. Anak dan peserta didik dapat menggunakan
mind mapping untut mencatat, meringkas, mengarang, berfikir
analisis, berfikir kreatif, merencanakan (jadwal, waktu, kegiatan) dan
lain sebagainya.
33
Manfaat mind mapping untuk kepentingan mengajar menurut
Sutanto Windura adalah sebagai berikut:
34
(a) Merancang kurikulum pengajaran yang komprehensif
(b) Menyatukan materi pengajaran dariberbagai sumber
(c) Meringkas materi pengajaran
(d) Mengembangkan ide materi mengajar
(e) Presentasi mengajar
33
Sutanto Windura, First Mind Map untuk Siswa, guru, dan orang tua, (Jakarta:
Gramedia, 2013), cet.1, hal.14
34
Ibid…, hal.14
45
(f) Manajemen waktu dalam mengajar
(g) Membuat catatan mengajar di papan tulis atau whiteboard
(h) Merancang soal-soal ujian
(i) Evaluasi kualitas mengajar
(j) Evaluasi hasil ujian
(k) Penugasan siswa
(l) Penelitian
Jadi dapat dikatakan bahwa mind map adalah sistem
penyimpanan yang sangat bermanfaat untuk mempertajam daya ingat
seseorang dengan memanfaatkan otak dan imajinasi. Cukup dengan
menyiapkan kertas kosong tak bergaris, pena dan pensil warna, otak
dan imajinasi, maka kita bisa langsung membuat mind map.
3. Kajian tentang Kreativitas
a. Hakikat Kreativitas
Salah satu kemampuan utama yang memegang peranan
penting dalam dalam kehidupan dan perkembangan manusia
adalah kreativitas, kemampuan ini banyak dilandasi oleh
kemampuan intelektual, seperti intelegensi, bakat dan kecakapan
hasil belajar, tetapi juga didukung oleh factor-faktor afektif dan
psikomotor. Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki
seseorang untuk menemukan dan menciptakan sesuatu hal yang
46
baru, cara-cara baru, model baru yang berguna bagi dirinya dan
bagi masyarakat.
Menurut Utami Munandar dalam Nana Syaodih Sukmadinata,
kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan
suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-
gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah,
atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru
antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.
35
David Campbell menekankan bahwa kreativitas adalah suatu
kemampuan untuk menciptakan hasil yang sifatnya baru, inovatif
belum ada sebelumnya, menarik, aneh, dan berguna bagi
masyarakat.
36
Berdasarkan penjelasan diatas, kreativitas merupakan
kemampuan untuk menghasilkan hal baru yang belum pernah ada
sebelumnya. Proses untuk menghasilkan hal baru tersebut dapat
berasal dari proses imajinatif dari penciptanya sendiri, dapat juga
berasal dari informasi dan pengalaman sebelumnya mengenai hal
yang akan diciptakan, kemudian pencipta melakukan
penggabungan dan pembaharuan dari karya maupun gagasan yang
pernah ada untuk mengahasilkan karya maupun gagasan yang baru,
dan berbeda dengan karya yang telah ada
35
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi,,,. hal. 104
36
Ibid…,
47
Kreativitas tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya
pengetahuan yang didapat melalui membaca, berbahasa, dan
aspek-aspek lainya. Oleh sebab itu, peserta didik dapat
mengembangkan dan melatih pola pikiranya untuk lebih kreatif.
Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah menyelesaikan
suatu proses pembelajaran dan pengembangan pemikiran dengan
baik dan membuktikan bahwa strategi belajar yang dipilihnya
sudah tepat dan berhasil.
37
b. Pengembangan Kreativitas
Setiap orang memiliki potensi untuk melakukan aktifitas
yang kreatif. Setiap peserta didik baru yang memasuki proses
belajar, dalam benak mereka selalu diiringi dengan rasa ingin tahu.
Pada tahap ini guru diharapkan untuk merangsang peserta didik
untuk melakukan apa yang dinamakan dengan learning skills
acquired, misalnya dengan jalan memberi kesempatan peserta
didik untuk bertanya (questioning), menyelidik (inquiry), mencari
(searching), menerapkan (manipulating) dan menguji coba
(experimenting). Kebanyakan yang terjadi di lapangan adalah
aktifitas ini jarang ditemui karena peserta didik hanya
mendapatkan informasi yang bagi mereka adalah hal yang abstrak.
Rasa ingin tahu peserta didik harus dijaga dengan cara memberikan
37
Hamzah B Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan PAIKEM, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2012), hal. 163
48
kesempatan bagi mereka untuk melihat dari dekat, memegangnya
serta mengalaminya.
38
Terdapat 10 ciri-ciri karakter cerdas dan kreatif, yaitu: (1)
Imajinatif. (2) Mempunyai prakarsa. (3) Mempunyai minat luas.
(4) Mandiri dalam berpikir. (5) Melihat (selalu ingin tahu tentang
segalanya, (6) Senang berpeluang. (7) Penuh energi. (8) Percaya
diri. (9) Bersedia mengambil resiko. (10) Berani dalam pendirian
dan keyakinan. Kemampuan cerdas dan kreatif peserta didik tidak
hanya menerima informasi dari guru, namun peserta didik akan
berusaha mencari dan menemukan informasi dalam proses
pembelajaran. Kemampuan kreatif akan mendorong peserta didik
merasa memiliki harga diri, kebanggaan dan kehidupan yang lebih
dinamis.
39
Menurut Iskandar Agung, kreativitas akan muncul apabila
dalam diri seseorang terdapat juga sifat kreatif meski demikian
sifat kreatif tidak serta merta ditentukan oleh sifat bawaan dan
bakat semata, tetapi dapat diperoleh melalui proses belajar,
dipupuk dan dikembangkan oleh setiap orang. Berikut adalah
38
Yoki Mirantyo, Peran Guru dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa, dalam
http://yokimirantiyo.blogspot.co.id/2013/07/peran-guru-dalam-meningkatkan.html, di akses pada
16 Desember 2015
39
Ripai Mat, Belajar, Aktivitas, Karakter Cerdas dan Kreativitas, dalam
https://ripaimat.wordpress.com/2013/08/29/belajar-aktivitas-karakter-cerdas-dan-kreativitas/,
diakses pada 29 Desember 2015
49
sejumlah sifat yang harus dimiliki seseorang untuk
mengembangkan kreativitasnya yaitu:
40
(a) Memiliki kepercayaan yang besar terhadap diri sendiri dan
mampu merencanakan dan merealisasikan gagasan, ide, atau
sesuatu hal yang baru guna mencapai tujuan yang dikehendaki
dengan tekun, tidak mudah menyerah, dan tidak berputus asa.
(b) Melontarkan pertanyaaan, bersikap ragu, dan menolak terhadap
keabsahan dan konklusi, sehingga memunculkan keinginan kuat
untuk mencari jawaban dan melakukan pengkajian ulang.
(c) Terbuka terhadap setiap bentuk pembaharuan dan perubahan
(d) Tidak bersifat fanatic dan memaksakan kehendak dan
pendapatnya kepada orang lain. Sebaliknya memiliki elastisitas
berfikir dan mampu menyikapi berbagai permasalahan
(e) Memiliki kemampuan menata gagasan dan mengekspresikanya
secara berkesinambungan, menentukan target keberhasilan
dengan keberanian memperhitungkan resiko yang akan
dihadapi.
(f) Memiliki motivasi serta kemampuan yang tinggi untuk sukses,
meningkatkan kesuksesan. Serta mempertahankanya.
Para peserta didik dibimbing agar memiliki kemampuan
kreativitas, mampu memecahkan masalah. Karena itu, melalui proses
40
Iskandar Agung, Panduan Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru, (Jakarta: Bestari Buana
Murni, 2012), hal. 31
50
belajar tertentu diupayakan tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Guru
perlu menyediakan kondisi-kondisi belajar yang memungkinkan
terjadinya penambahan aspek keluwesan, keaslian, dan kuantitas dan
abilite kreativitas yang dimiliki oleh para peserta didik.
Adapun konsep dasar kreativitas Menurut Utami Munandar
strategi pengembangan kreativitas 4 P yaitu (Pribadi, Pendorong,
Proses, Produk) yang pertama pribadi kreatif adalah ungkapan
(ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan
lingkungannya. Ungkapan kreatif ialah yang mencerminkan
orisinilitas dari individu tersebut. Strategi pengembangan yang kedua
adalah pendorong (press) dari kreatif peserta didik akan terwujud
jika ada dukungan dari lingkungannya, ataupun jika ada dorongan
kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan
sesuatu. Strategi pengembangan yang ketiga adalah proses dalam
mengembangkan kreatif anak perlu diberi kesempatan untuk
bersibuk diri secara aktif. Pendidik hendaknya dapat merangsang
untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu
mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Strategi
pengembangan yang ketiga adalah produk merupakan kondisi yang
memungkinkan seseorang menciptakan produk kreatif yang
bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh
51
mana keduanya mendorong seseorang untuk melibatkan dirinya
dalam proses kekreativitasannya.
41
c. Berfikir Kreatif
Kreativitas adalah kemampuan untuk mengungkapkan hubungan-
hubungan baru, melihat sesuatu dari sudut pandang baru dan
membentuk kombinasi baru dari dua konsep atau lebih yang dikuasai
sebelumnya, maka berfikir kreatif dapat dimaknai dengan berfikir yang
dapat menghubungkan atau melihat sesuati dari sudut pandang baru.
Terdapat 5 tahapan langkah-langkah berfikir kreatif yaitu:
42
1) Stimulus. Untuk dapat berfikir secara kraetif perlu adanya
stimulus dari pikiran yang lain. Stimulus awal di dorong oleh
suatu kesadaran bahwa sebuah masalah harus diselesaikan.,
atau suatu perasaan yang tidak jelas bahwa ad aide yang tidak
begitu dapat ditangkap atau disadari sepenuhnya. Sering kali
keadaan ini dipicu oleh suatu tantangan pada berfikir peserta
didik, yang diberikan guru.
2) Eksplorasi. Peserta didik dibantu untuk memberikan
alternative-alternatif pilihan sebelum membuat suatu
keputusan. Untuk berfikir kretif peserta didik harus mampu
41
Utami Munandar, Pengembangan Emosi dan Kreativitas, ( Jakarta :Rineka Cipta, 2004),
hal.45
42
Ahmat Susanto, Teori Belajar…, hal. 115
52
menginvestigasi lebih lanjut, dan melihat lagi apa yang mereka
perlukan.
3) Perencanaan, setelah diadakan stimulus berupa masalah,
kemudian melakukan eksplorasi untuk pemecahan masalah
tersebut, selanjutnya membuka berbagai rencana atau strategi
untuk pemecahan masalah. Dari beragam rencana yang dibuat,
dapat diambil beberapa rencana yang paling tepat untuk solusi.
4) Aktivitas, proses kreatif dimulai dengan suatu ide atau
kumpulan ide
5) Review, peserta didik perlu mengadakan evaluasi dan meninjau
kembali pekerjaan. Apa yang dikerjakan? Seberapa besar
keberhasilanya? Apakah kita telah mencapai tujuan? Apa yang
telah dipelajari? Peserta didik dapat dilatih untuk menggunakan
judgement dan imajinasi mereka untuk mengevaluasi.
4. Kajian tentang Hasil Belajar
Pada dasarnya setiap peserta didik berhak untuk memperoleh
peluang untuk mencapai kinerja akademik yang optimal. Metode
pembelajaran mind mapping dikembangkan untuk membantu peserta
didik dalam mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan
masalah, dan keterampilan intelektual dengan mengandalkan kedua
belah otak yaitu otak kanan dan otak kiri. Hal ini akan membuat
53
peserta didik mampu lebih memahami dan menangkap materi yang
diberikan.
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata
yang membentuntuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”, pengertian
hasil atau product menunjuk pada suatu perolehan akibat
dilakukanya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan
berubahnya input fungsional.
43
Sedangkan belajar Belajar adalah
suatu aktivitas yang di lakukan secara sadar untuk mendapatkan
sejumlah kesan dari bahan yang telah di pelajari. Hasil dari aktiitas
belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian
belajar dikatakan berhasil bila telah terjadi perubahan dalam diri
individu.
44
Jadi hasil belajar atau achievement merupakan hasil dari
berbagai upaya dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar
yang dilakukan peserta didik dalam mempelajari materi pelajaran
yang di ajarkan oleh guru. Sebagaimana telah di jelaskan oleh
Abdorrakhman Ginting yang di perkuat oleh temuan berbagai
pakar penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan atau
korelasi yang kuat antara kinerja dan hasil. Hubungan ini juga
berlaku dalam proses belajar dan mengajar yaitu hasil belajar
peserta didik berhubungan dengan kinerja belajarnya. Karena hasil
43
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal.44
44
Saiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1994), hal. 19
54
belajar berkorelasi dengan kinerja belajar sedangkan kinerja belajar
berkorelasi dengan hasil belajar.
45
Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari
perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,
keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik. Hampir
sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan
seseorang merupakan hasil belajar. Di jenjang pendidikan hasil
belajar ini dapat dilihat dari penguasaan peserta didik akan mata-
mata pelajaran yang ditempuhnya. Tingkat penguasaan pelajaran
atau hasil belajar dalam mata pelajaran di sekolah dilambangkan
dengan angka-angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah,
dan huruf A, B,C, D pada pendidikan tinggi.
46
Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional,
biasanya guru menetapkan kompetensi yang harus dicapai peserta
didik dalam pembelajaran. Peserta didik yang berhasil dalam
proses pembelajaran adalah peserta didik yang mampu mencapai
kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan guru. Menurut
pemikiran Gagne yang menjadi dasar keberhasilan belajar
adalah.:
47
a) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. Kemampuan
45
Abdorrakhman Gintings, Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran, (Bandung:
Humaniora, 2008), hal. 42
46
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi.., hal.103
47
Agus Suprijono, Coopeatif Learning…, hal. 6
55
merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik.
Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol,
pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.
b) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan
konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari
kemampuan mengategorisasi, kamampuan analitis-sintesis
fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan
aktivitas kognitif bersifat khas.
c) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan
mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini
meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memcahkan
masalah.
d) Keterampilan motorik (psikomotorik) yaitu ketrampilan yang
berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak
e) Sikap (afektif) merupakan hasil belajar yang berkenaan dengan
keterampilan sikap. Sikap berkaitan dengan kemampuan
menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku. Dalam
keterampilan sikap terdapat lima aspek yaitu, penerimaan,
jawaban, penilaian, organisas, dan informalisasi.
Dari kelima pemikiran Gagne yang di tujukan untuk
mengukur hasil belajar peserta didik, hanya 3 keterampilan yang
56
digunakan oleh guru untuk mengukur hasil belajar peserta didik di
sekolah, 3 keterampilan itu yaitu, keterampila, kognitif,
Keterampilan motorik (psikomotorik), Sikap (afektif). Namun dari
ketiga keterampilan tersebut keterampilan kognitif merupakan
ketrampilan hasil belajar yang paling dominan.
Bloom membagi tipe hasil belajar dari ranah kognitif
menjadi enam tingkat, yang mana disusun hirarki mulai dari yang
paling rendah sampai yang paling tinggi. Enam tingkat diantaranya
hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
48
(a) kemampuan menghafal (knowledge merupakan kemampuan
memamggil kembali fakta yang disimpan dalam otak dan
digunakan untuk merespon suatu masalah (b) kemampuan
pemahaman adalah kemampuan memahami hubungan fakta
dengan fakta. (c) kemampuan penerapan adalah kemampuan
kognitif untuk memahami aturan, hokum, rumus, dan sebagainya
dan juga menggunakan untuk memecahkan masalah (d)
kemampuan analisis adalah kemampuan memahami sesuatu
dengan menguraikanya ke dalam unsur-unsur. (e) kemampuan
sintesis adalah memahami dengan mengorganisasikan bagian-
bagian ke dalam satuan. (f) kemampuan evaluasi adalah
kemampuan membuat penilaian dan mengambil keputusan dari
hasil peilaianya.
48
Purwanto, Evaluasi Hasil…, hal. 50-51
57
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses
pembelajaran, hal ini berguna untuk mengetahui sejauh mana
tingkat kemampuan dan keterlibatan peserta didik dalam mengikuti
proses pembelajaran. Untuk mengetahui keterlibatan pesera didik
dalam proses pembelajaran maka perlu diadakan suatu pengukuran
tes hasil belajar. pengukuran hasil belajar berupa tes ini berguna
untuk memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan
peserta didik dalam mencapai kompetensi belajarnya melalui
kegiatan belajar.
Hasil belajar yang dicapai peserta didik melalui proses belajar
mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang
bercirikan sebagai berikut:
49
a) Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi
belajar instrinsik pada diri peserta didik.
b) Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya
c) Hasil belajar yang dicapainya bermakna pada dirinya dirinya,
seprti akan tahan lama diingat, membentuk perilakunya dan
mengembangkan kreativitasnya.
d) Hasil belajar diperoleh peserta didik secara menyeluruh yakni
mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
49
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2002), hal. 22-23
58
e) Kemampuan peserta didik untuk mengontrol atau menilai hasil
yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan
usaha belajarnya.
Dengan demikian adalah sesuatu yang dicapai atau
diperoleh peserta didik melalui usaha atau fikiran yang
menghasilkan penguasaan, pengetahuan, kemampuan,
keterampilan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam segala
aspek kehidupan, sehingga Nampak pada individu perubahan
tingkah laku kea rah yang lebih baik. Dimana hasil belajar peserta
didik ini nantinya akan menjadi tolak ukur yang utama untuk
mengetahui hasil belajar seseorang. Seseorang yang hasilnya tinggi
dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar, begitupun
sebaliknya seseorang yang memiliki hasil belajar rendah atau
kurang memuaskan dapat dilakukan perbaikan, sehingga dapat
memperoleh hasil belajar yang memuaskan.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar di sekolah sangat di pengaruhi oleh
kemampuan umum peserta didik yang di ukur oleh IQ, IQ yang
tinggi dapat meramalkan kesuksesan hasil belajar. Namun dalam
beberapa kasus IQ yang tinggi tidak menjamin kesuksesan
seseorang dalam belajar. IQ bukanlah satu-satunya faktor penentu
kesuksesan belajar peserta didik, namun hasil belajar yang dicapai
59
seseorang (peserta didik) merupakan hasil interaksi berbagai faktor
yang mempengaruhinya baik dalam diri (faktor internal) maupun
dari luar (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-
faktor yang mempengaruhi hasil belajar penting sekali artinya
dalam rangka membantu peserta didik dalam mencapai hasil
belajar yang sebaik-baiknya.
50
Menurut M. Dalyono faktor-faktor yang menentukan
pencapaian hasil belajar adalah sebagai berikut:
51
1. Faktor Internal (yang berasal dari dalam diri)
a) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar
pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Jika kondisi
fisik dan psikis sehat maka akan berdampak positif
terhadap kegiatan belajar,sebaliknya jika kesehatan yang
terganggu misalnya : badan sakit, perasaan kacau, tidak
tenang, cemas, takut dan lain sebagainya. Semua itu akan
menghilangkan minat dan menghambat proses belajar anak.
Karena itu, pemeliharaan kesehatan sangat penting bagi
setiap orang baik fisik maupun mental agar badan menjadi
sehat, pikiran menjadi segar dan bersemangat dalam
melaksanakan kegiatan belajar.
b) Intelegensi dan Bakat
50
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004),
hal. 138-139
51
M.Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta,2007), hal. 55
60
Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
mencapai suatu hasil,intelegensi sering disebut sebagai
kemampuan intelektual.
52
Sedangkan bakat adalah
kelebihan atau keunggulan alamiah yang melekat pada diri
seseorang. Intelegensi dan balat merupakan aspek kejiwaan
(psikis) ini besar sekali pengaruhnya terhadap lemampuan
belajar, jika seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ
nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya
cenderung baik,sebaliknya orang intelegensinya
rendah,cenderung mengalami kesukaran dalam belajar,
lambat berfikir sehingga hasilnya pun rendah. Yang perlu
di ingat disini hasil belajar rendah bukan hanya di sebabkan
oleh rendahnya taraf intelegensinya tetapi ada faktor lain
yang berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya anak itu
dalam melakukan kegiatan belajar.
Selanjutnya, jika seseorang mempunyai intelegensi
tinggi dan di tunjang dengan bakatnya maka peserta didik
akan mudah dalam kegiatan belajar
c) Minat dan motivasi belajar
Minat merupakan kecenderungan seseorang untuk
merasa tertarik atau senang terhadap suatu obyek.
Sedangkan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di
52
Afifudin,et,all, Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar, (Solo: Harapan Massa,
1988), hal. 110
61
dalam diri anak yang mampu menimbulkan kesemangatan
atau kegairahan belajar. Dalam hal ini adalah kegiatan
belajar. minat dan motivasi dapat meningkatkan semangat
belajar yang tinggi, jika peserta didi memiliki semangat dan
minat yang besar dalam hal belajar maka proses belajar
akan menjadi maksimal dan mudah.
d) Cara belajar
Cara belajar yang baik dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik. Seseorang yang belajar pagi, siang,
sore tanpa istirahat justru hasilnya tidak akan baik.
Sebaliknya jika belajar dengan teratur dan cukup istirahat
maka hasilnya akan lebih maksimal.
2. Faktor Eksternal (yang berasal dari luar diri)
a) Keluarga
Keluarga sangat penting dalam pencapaian hasil belajar,
terutama peran orang tua, tinggi rendahnya pendidikan, besar
kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian orang
tua terhadap anak. Semua utuk dapat mempengarugi hasil
belajar.
b) Sekolah
Kondisi dan lingkungan sekolah juga dapat
mempengaruhi hasil belajar peserta didik, sarana, media yang
di gunakan juga bisa mempengaruhi proses belajar pada anak.
62
c) Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan hasil belajar
peserta didik, bila di sekitar tempat tinggal keadaan
masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan
makaa akan mendorong anak untuk semangat belajar.
d) Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan juga bisa mempengaruhi proses
belajar, kenyamanan, kebersihan.semua itu bisa menunjang
kenyamanan dalam belajar.
B. Penelitian Terdahulu
Metode pembelajaran mind mapping telah mampu meningkatkan
pemahaman peserta didik , hal ini dibuktikan dalam penelitian yang telah
dilakukan oleh:
1. Muhammad Arif Ikhwanuddin dalam skripsinya yang berjudul,
Penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan keterampilan
menulis karangan narasi pada peserta didik kelas IVA SDN
Wonosari 02 Semarang tahun ajaran 2013/2014”. Simpulan dari
penelitian tersebut adalah bahwa metode pembelajaran dapat
meningkatkan kualitas menulis cerita narasi. Hal ini ditandai dengan
meningkatnya presentase dalam siklus. Presentase keterampilan guru
dalam siklus 1 sebesar 79,2% dengan kategori sangat baik pada
siklus 1 dan pada siklus II meningkat menjadi 86,49% dengan
63
kategori sangat baik. Presentasi keaktifan peserta didik meningkat,
pada siklus 1 yaitu 58,3% dengan kategori baik dan pada siklus II
65,5% dengan kategori baik. Keterampilan menulis cerita narasi
peserta didik meningkat, pada siklus 1 75,67% dengan kategori baik
dan pada siklus II 89,19% dengan KKM > 64. Perbedaan dari
penelitian ini adalah variable yang diteliti yaitu keterampilan guru
dalam mengajar, dan keterampilan menulis cerita narasi , subyek
penelitianya yaitu peserta didik kelas IVA SDN Wonosari 02
Semarang tahun ajaran 2013/2014, penelitianya berlangsung selama
2 siklus, dan simpulan penelitianya adalah meningkatkan kualitas
pembelajaran menulis cerita narasi. Sementara persamaan dari
penelitian ini adalah salah satu variabelnya menggunakan metode
mind mapping dan hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang
signifikan dari apa yang diteliti.
2. Eny Sulistiyaningsih dalam skripsinya yang berjudul “Peningkatan
kemampuan menulis narasi dengan metode peta pikiran (mind mapping)
pada peserta didik kelas V SD Negeri karangasem III surakarta tahun
pelajaran 2010/2011”. Hal ini dapat dilihat dari nilai kemampuan
peserta didik dalam menulis narasi yang mengalami peningkatan
pada setiap siklus. Presentase nilai awal untuk peserta didik kelas V
SDN karangasem III yaitu hanya mencapai 32% kemudian setelah
diadakan tindakan, terlihat adanya peningkatan yang cukup
signifikan. Presentase kenaikan nilai peserta didik pada siklus I yaitu
64
68% sementara itu pada siklus II presentase kenaikan nilai peserta
didik menjadi 84%. Perbedaan penelitian Eny Sulistiyaningsih dalam
penelitian ini adalah salah satu variable yang diteliti yaitu
kemampuan menulis narasi, subjek penelitianya yaitu peserta didik
kelas V SDN karangasem III Surakarta, penelitianya berlangsung
selama 2 siklus, dan simpulan dari peneliianya adalah metode mind
mapping dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi, sementara
peersamaan dari penelitian ini adalah salah satu variabelnya
menggunakan metode yang sama yaitu metode mind mapping dan
hasil dari penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan dari apa
yang diteliti.
3. Gina Rahmayanti dalam skripsinya yang berjudul, Peningkatan
kemampuan menulis karangan narasi melalui metode mind mapping
dalam pembelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar. Penelitian
ini dilaksanakan di SDN Dawuan Timur I Kecamatan Cikampek
Kabupaten Karawang pada tahun ajaran 2012/2013. Variabel yang
menjadi sasaran perubahan dalam penelitian ini adalah kemampuan
menulis narasi, sedangkan variabel tindakan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode mind mapping. Subjek penelitian adalah
peserta didik kelas IV SDN Dawuan Timur I yang berjumlah 30
peserta didik. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
(PTK). Prosedur penelitian dilakukan dalam 3 siklus dengan
menggunakan dua instrumen penelitian yaitu observasi dan tes
65
peserta didik. Dilihat dari evaluasi siklus pertama sampai siklus
ketiga didapat hasil nilai rata-rata kelas pada tes akhir sebesar 66,67
dalam siklus pertama, kemudian nilai rata-rata tes akhir pada siklus
kedua sebesar 69,83, dan dalam siklus ketiga nilai rata-rata tes akhir
yang diperoleh sebesar 74,33. Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa metode mind mapping dapat meningkatkan
kemampuan menulis karangan narasi dalam pembelajaran bahasa
Indonesia. Dengan menggunakan metode mind mapping, dapat
mempermudah siswa dalam menuangkan ide atau gagasannya dalam
bentuk karangan narasi. Selain itu juga siswa menjadi kreatif, aktif,
dan termotivasi dalam pembelajaran menulis karangan.
4. Tutiek Yunita Rachmawati dalam skripsinya yang berjudul,
“peningkatan kualitas pembelajaran menulis cerpen dengan metode
mind mapping pada siswa kelas IX di SMP Al Muayyad Surakarta
tahun ajaran 2007/2008”. Simpulan dari penelitian tersebut adalah
bahwa metode pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan
kualitas proses pembelajaran menulis cerpen. Hal ini ditandai dengan
meningkatnya presentase dalam setiap siklus. Presentase keaktifan
peserta didik dalam siklus 1 sebesar 54%, minat dan motivasi sebesar
65% sedangkan perhatian dan konsentrasi sbesar 65%. Sedangkan
pada siklus II presentase keaktifan peserta didik sebesar 85%, minat
dan motivasi, sedangkan perhatian dan konsentrasi sebesar 85%
sedangkan perhatian dan konsentrasi sebesar 85%. Pada siklus III
66
presentase keaktifan peserta didik sebesar 92%, minat dan motivasi
sebesar 100%, sedangkan perhatian dan konsentrasi sebesar 100%.
Perbedaan dari penelitian Tutiek Yunita Rachmawati dengan
penelitian ini adalah salah satu variable yang diteliti yaitu kualitas
pembelajaran menulis cerpen, subjek penelitianya yaitu peserta didik
kelas IX di SMP Al Muayyad Surakarta tahun ajaran 2007/2008,
penelitianya berlangsung selama tiga siklus, dan simpulan
penelitianya adalah metode mind mapping dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran menulis cerpen. Sementara persamaan ini
salah satu variabelnya menggunakan metode yang sama yaitu
metode mind mapping dan hasil penelitianya menunjukkan hasil
yang signifikan dari apa yang diteiti.
C. Kerangka Berfikir
Gambar 2.1 kerangka berfikir
Pembelajaran
Bahasa
Indonesia
Penerapan
metode
pembelajaran
Metode Mind
mapping
Peserta didik
kelas IV
Meningkat
Kreativitas
67
Proses pembelajaran di kelas sebagai suatu runtutan perubahan
dalam perkembangan kegiatan pembelajaran di mana di dalamnya terjadi
keinginan untuk memperoleh perubahan dalam diri peserta didik baik
berupa pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap dan perilaku yang
dilakukan dengan interaksi antara peserta didik dengan pendidik/guru
pada suatu lingkungan belajar.
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang
melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelelajaran,
memotivasi peserta didik agar aktif, dan memberikan kebebasan pada
peserta didik untuk berkreasi, mengembangkan potensi, dan
mengembangkan pemikiran secara aktif dalam proses pembelajaran
sehingga mampu menciptakan proses belajar yang optimal.
Pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis cerita di MI Sunan
Giri Boro Kedungwaru Tulungagung akan semakin meningkatkan
kraeativitas dan hasil belajar peserta didik apabila diterapkan metode
pembelajaran mind mapping, hal ini dikarenakan metode pembelajaran
mind mapping merupakan salah satu cara mencatat materi pembelajaran
yang memudahkan peserta didik belajar selain itu mind mapping adalah
cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan
mengambil informasi ke luar dari otak. mind mapping adalah cara
mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakkan
pikiran-pikiran kita. Oleh sebab itu penerapan metode mind mpping
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis cerita dapat
68
meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik kelas IV MI
Sunan Giri Boro Kedungwaru Tulungagung.